Jumat, 30 November 2012

Katakanlah : TEMAN…AKU CINTA PADAMU


Teringat kembali saat akan ada perubahan formasi ‘forum malam jumat’ beberapa waktu lalu ketika aku masih di Jogja. Ustadz dan temen-temen saling mengucapkan kata ‘perpisahan’. Biasalah …, permintaan maaf kalo selama ini berbuat kesalahan, terlalu banyak gurauannya, ada kata-kata yang menyinggung, tetapi pada dasarnya tidak ada niatan untuk melakukan itu semua. Semuanya dilakukan hanya ingin mencairkan suasana, agar forum rutin itu dinamis, tidak kaku dan membosankan, begitu kata salah seorang temen. (meskipun aku merasa kalo porsi untuk gurauannya lebih besar dari seriusnya, but sejujurnya aku seneng kok he..he…)
Aku ragu, mo ikut bersuara ato tidak. Tapi kuputuskan juga utk menyampaikan yang terlintas di kepala.

“ assalamualaikum ...dalam sebuah kata bijak yang pernah aku baca, disitu dikatakan bahwa memang sakit ketika cinta kita ditolak. Tapi lebih menyakitkan lagi kalo kita tidak sempat menyatakan cinta kita kepada orang yang kita cintai sampai dia pergi meninggalkan kita tanpa pernah tahu bahwa kita mencintainya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan kepada temen-temen, bahwa saya mencintai temen-temen karena Allah insya Allah ...”.

Ustadz bilang, ” wah, tadi waktu pertama dengar memang sakit ketika cinta ditolak, saya sudah takut, jangan-jangan ini kecewa karena ’proposal’nya gak kesampaian,...”
Kalo temen-temen yang lain malah ketawa-ketawa, bukannya terharu, dan bilang, wah, hendri ternyata romantis.....gak tau kalo hatiku sedang sedih karena kelompoknya mau dirotasi :-<
Yah, aku sampaikan itu karena gak mau nantinya menyesal karena tidak sempat mengatakan apa yang ada dalam hati.
Begitu juga ketika mau pulang ke daerahnya di Bengkulu awal september kemaren, salah seorang sahabat terbaikku, Candra Lesmana pernah mengatakan, ” Coy, satu keinginanku yang belum kesampaian selama di Jogja. Keliling Ring Road naik sepeda.”.
Karena itulah, pada ahad 11 November ba’da subuh, jam 5 pagi aku mewujudkan keinginan Candra yang belum kesampean. Yaa, keliling Ring Road naik sepeda onthel pinjeman. Sendirian, coz gak ada yang mau diajak. Ketika di Ring Road Timur, kira-kira baru setengah jam perjalanan kok matahari dah mulai memancarkan sinarnya, dan aku mulai kecapaian. Terusin ...gak. terusin...gak. ditambah lagi sadel yang keras, jadinya gak bisa ngebut. Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan. Daripada nanti menyesal, lagian ini bisa jadi pengalaman baru sebelum meninggalkan jogja. Akhirnya sampe di titik start kembali sekitar pukul 7.30. lumayan cape, dua setengah jam ngayuh sepeda tanpa berhenti. Kata temen-temen sih kurang kerjaan, kayak orang ilang. But, bagiku it’s no problemo. ada kepuasan tersendiri yang kurasakan.
Sekali lagi, aku mencoba untuk meminimalisir kekecewaan dan penyesalan yang mungkin sekali akan melanda hati seandainya keinginan dan perasaan yang aku rasakan tidak aku wujudkan dan aku ungkapkan, padahal ada kemampuan dan kesempatan untuk melakukannya.
Hanya saja, aku tidak sempat mengungkapkan perasaan ini kepada temen-temen yang lain sebelum pergi meninggalkan jogja tercinta :-<. Disamping emang bener aku lupa, kayaknya juga kalo ingat sekalipun, aku gak akan berani mengatakannya. Nanti dikirain terlalu sentimentil...
So, sekarang aku ingin mengatakan lewat coretan ini buat temen-temen semua, Aku mencintai kalian semua karena Allah, insya Allah...
Terutama buat .......:-) (di-cut)

pas habis nulis ini, aku buka file artikel-artikel yang pernah aku ambil di internet. And, ada satu cerita yang pas dengan apa yang kurasakan. Ini dia artikelnya ...
JANGAN PERNAH MENUNDA
Pada suatu tempat, hiduplah seorang anak. Dia hidup dalam keluarga yang bahagia, dengan orang tua dan sanak keluarganya. Tetapi, dia tidak pernah mensyukuri betapa baiknya kehidupan yang dia miliki. Dia terus bermain, mengganggu sanak keluarganya kalau mereka tidak mau bermain apa yang dia inginkan. Tetapi, ketika dia mau minta maaf, dia selalu berkata,"Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika agak besar, sekolah sangat menyenangkan baginya. Dia belajar, mendapat teman, dan sangat bahagia. Tetapi, dia tidak pernah mensyukurinya.
Semua begitu saja dijalaninya sehingga dia anggap semua sudah sewajarnya.
Suatu hari, dia berkelahi dengan teman baiknya. Walaupun dia tahu itu salah, tapi tidak pernah mengambil inisiatif untuk meminta maaf dan berbaikan dengan teman baiknya. Alasan dia, "Tidak apa-apa, besok kan bisa."
Ketika dia agak besar, teman baiknya tadi bukanlah temannya lagi. Walaupun dia masih sering melihat temannya itu, tapi mereka tidak pernah saling bertegur-sapa. Tapi itu bukanlah masalah, karena dia masih punya banyak teman baik yang lain. Dia dan teman-temannya hampir melakukan segala sesuatu bersama-sama, makan, main, kerjakan PR, dan jalan-jalan. Ya, mereka semua teman-temannya yang paling baik. Setelah lulus, kerja membuatnya sibuk. Dia bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik dan baik, segera dia menjadi pacarnya. Dia begitu sibuk dengan kerjaannya, karena dia ingin dipromosikan ke posisi paling tinggi dalam waktu yang sesingkat mungkin. Tentu, dia rindu dengan teman-temannya. Tapi dia tidak pernah lagi menghubungi mereka lagi, bahkan lewat telepon. Dia selalu berkata, "Ah, aku capek, besok saja aku hubungi mereka."
Ini tidak terlalu mengganggu dia, karena dia mempunyai teman-teman sekerja yang selalu mau diajak keluar. Jadi, waktu pun berlalu, dia lupa sama sekali untuk menelepon teman-temannya. Setelah dia menikah dan punya anak, dia bekerja lebih keras agar dapat membahagiakan keluarganya. Dia tidak pernah lagi membeli bunga untuk istrinya, atau pun mengingat hari ulang tahun istrinya dan juga hari pernikahan mereka. Tapi, itu tidak masalah baginya, karena istrinya selalu mengerti dia, dan tidak pernah menyalahkannya.
Tentu, kadang-kadang dia merasa bersalah dan sangat ingin punya kesempatan untuk mengatakan pada istrinya "Aku cinta padamu", tapi dia tidak pernah melakukannya. Alasan dia, "Tidak apa-apa, saya pasti akan mengatakannya besok." Dia tidak pernah sempat datang ke pesta ulang tahun anak-anaknya,tapi dia tidak tahu ini akan berpengaruh pada anak-anaknya. Anak-anak mulai menjauhinya, dan tidak pernah benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan ayahnya.
Suatu hari, kemalangan datang ketika istrinya tewas dalam kecelakaan.
Ia ditabrak lari. Tapi hari itu, dia sedang ada rapat. Dia tidak sadar bahwa itu kecelakaan yang fatal, dia baru datang saat istrinya akan dijemput maut.
Sebelum sempat berkata "Aku cinta padamu", istrinya meninggal.
Laki-laki itu remuk hatinya dan mencoba mencari penghibur diri melalui anak-anaknya setelah kematian istrinya. Tapi, dia baru sadar anak-anaknya tidak pernah mau berkomunikasi dengannya. Setelah, anak-anaknya dewasa dan membangun keluarganya masing-masing. Tidak ada yang peduli sama orang tua ini yang di masa lalunya tidak pernah meluangkan waktunya untuk mereka.
Dia pindah ke rumah jompo yang terbaik, yang menyediakan pelayanan sangat
baik dengan uang yang dia simpan untuk perayaan pernikahan ke 50, 60,dan 70, dia dan istrinya. Semua uang itu sebenarnya untuk dipakai pergi ke Hawaii, New Zealand, dan negara-negara lain, tetapi kini dipakai untuk membayar biaya tinggal dia di rumah jompo tersebut. Sejak itu sampai dia meninggal, hanya ada orang-orang tua dan suster yang merawatnya.
Dia kini merasa sangat kesepian, perasaan yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Saat dia mau meninggal, dia memanggil seorang suster dan berkata kepadanya, "Ah, andai saja aku menyadari ini dari dulu...."
Dan dia meninggal dengan air-mata di pipinya.
Apa yang saya ingin coba katakan pada anda adalah : Waktu itu tidak pernah berhenti.
Anda terus maju dan maju, sebelum anda sadar, anda telah maju terlalu jauh.
Jika anda pernah bertengkar, segera berbaikanlah !
Jika anda merasa ingin mendengar suara teman-mu, jangan ragu-ragu untuk meneleponnya segera. Terakhir, tapi ini yang paling penting.
Jika anda merasa anda ingin mengatakan sesuatu kepada seseorang, bahwa anda sayang dia, jangan tunggu sampai terlambat.
Jika anda terus berpikiran bahwa anda akan memberitahu dia di lain hari, hari ini tidak pernah akan datang.
Jika anda selalu berpikiran bahwa esok akan datang, maka "esok" akan pergi begitu cepatnya, sehingga anda baru sadar waktu telah meninggalkanmu.
Jangan tunda kirim email ini ke sahabat-sahabat anda.
Atau masih adakah hari esok .....?

Puisi Salah Kirim


Pada jejak langkah empat kaki kuda, ada cinta disana.
Tumbuh tanpa kata sengaja, mendenyutkan kefanaan usia.
Menjebakkan, dalam dunia tanpa peta.
Beginikah cara hidup, memaksakan diri, dalam tanah ruhani.
Sungguh ... tak tahu lagi, dimana tempat berdiri.
Puisi ini merupakan curahan hati seorang anak manusia.

keesokan harinya, dia kirim sms lagi.
Rumah tua itu, esok tadi tlah dibongkar.
Malam ini, aku ingin berkata ”menyesal tak sempat mengajakmu kesana”.
Sungguh, ia adalah magnet besar dalam hidupku,
Yang selalu bicara tentang cita...
Aku ingin benar melihatnya bercerita padamu,
Tentang pengembaraan abadi,
Dalam lintasan kehidupanku.

Minggu, 09 September 2012

Akhwat kok ngga bisa masak...


“ Wah, payah ….akhwat-akhwat di kampus kita pada gak bisa masak”, komentar kawanku tiba-tiba saat melihat beberapa akhwat keluar dari al kautsar, salah satu di antara sekian banyak nama rumah makan yang sering dikunjungi oleh para akhwat. “Ah…kata siapa? Ente tahu darimana ? tanyaku pengen tahu. “Lha itu, aku sering mergokin akhwat-akhwat habis dari warung. Kalo sore hari mereka beli makannya di warung pecel lele. Berarti mereka kan gak pernah masak sendiri karena ngga bisa masak….”begitu penjelasan kawanku soal komentarnya tentang para akhwat. Aku sih ngga begitu sepakat dengan pendapat kawanku tadi, meski kadang perasaan itu muncul juga dalam pikiran. Aku berhusnudzan saja, kalau mereka tuh bukannya nggak bisa masak, tetapi memang karena waktu yang tidak memungkinkan untuk memasak. Waktu mereka sudah tersita untuk kuliah, ngaji, ngurusin dakwah di kampus dan juga di masyarakat, serta seabrek aktivitas lainnya, sehingga tidak ada waktu lagi untuk memasak sendiri. So, cara yang praktis dan efisien ya dengan beli di warung.
Semoga para akhwat tidak menanggapi komentar ini dengan perasaan marah dan ngga terima. “enak saja ikhwan kalo ngasih komentar. Emangnya kalo kita sering terlihat beli di warung berarti kita gak bisa masak? Kalo gitu boleh dong kita berpendapat kalo ikhwan itu pada ringkih semua. Soalnya kita ngga pernah lihat ikhwan-ikhwan itu narik gerobak. Nah lho ….”
Maksud saya menuliskan ini hanya untuk ngasih tahu kalo di kalangan ikhwan memang ada pendapat seperti itu. Bahwasanya akhwat-akhwat sekarang ini banyak yang merupakan ‘anak mama’. Kalo di rumah tidak pernah membantu ibu memasak di dapur. Mungkin bisa diumpamakan kalo disuruh masak nasi, maka ada beberapa kemungkinan: nasinya gosong, masih terasa berasnya alias nggak matang, atau terlalu lembek kebanyakan air. Kalo diminta buat sayur, kadang asin, di lain waktu terlalu manis dsb. Semoga ini bisa dijadikan evaluasi oleh para akhwat. Kalo ngga benar, ngapain marah. Tapi, dari beberapa daurah yang pernah saya ikuti dan konsumsinya ditangani langsung oleh akhwat (masak sendiri), sepertinya apa yang dikatakan oleh kawan saya tadi memang benar. Jujur saya katakan ini tanpa bermaksud mengurangi rasa terima kasih dan salut atas pengorbanan para akhwat. Benar begitu kan, wan..? (maksudnye ikhwan)
Memasak, merupakan salah satu tugas rumah tangga yang tidak bisa dianggap sepele. Bagiku secara pribadi, kemampuan memasak menjadi satu ukuran telah siapnya seorang akhwat menjadi istri dan juga menunjukkan kesempurnaannya sebagai akhwat. Why? Mengapa?
Sekali lagi, menurut pendapatku secara pribadi nih, ada beberapa alasan:

Pertama, hidup berumah tangga, merupakan sebuah perjalanan panjang mengarungi samudera kehidupan yang tidak hanya berlangsung sehari dua hari, sebulan dua bulan, bahkan setahun dua tahun. Ia adalah pelayaran yang tanpa batas, selama usia masih ada dalam raga. Nah, tidak bisa selamanya para akhwat menggantungkan menu masakan hanya kepada khadimat(pembantu), atau beli di warung makan. Tidak semua suami mampu mencarikan khadimat untuk membantu pekerjaan istrinya di rumah. Juga, tidak selamanya khadimat akan berada di rumah kita. Terkadang, mereka juga butuh istirahat/cuti, biasanya saat libur lebaran. Sedangkan kalo beli di warung, selain menguras dana yang cukup besar kalo dilakukan setiap hari, juga kita akan cepat bosan dengan menu yang itu-itu saja.

Kedua, untuk menjaga izzah di hadapan ibu mertua, apalagi kalo sang Ibu jago masak. Paling nggak akhwat tersebut harus bisa masak gule, sate, kare ......juga buat bumbu tempe....serta sayur taoge...... sehingga tidak menjadi bahan sindiran sang Ibu. ”Lha nanti anakku mau dikasih makan apa? Jangan-jangan tiap hari cuman dibikinin mie doang. Bisa kena tiphus nanti...”. Dengan kemampuannya memasak, maka si akhwat pasti deh bakalan jadi menantu kesayangan dan kebanggaan ibu mertua.

Ketiga, seorang akhwat, betapapun aktifnya dia di organisasi, memegang amanah yang penting, selalu sukses dengan program-program yang direncanakan, akan kurang sempurna ’keakhwatan’nya manakala ia tidak bisa memasak. Kemampuan memasak merupakan kemampuan ’asasi’, satu hal yang mesti dimiliki calon ibu rumah tangga seperti akhwat. Dengan memasak, maka program keluarga sakinah mawaddah wa rahmah akan lebih mudah tercapai, karena sang suami – apalagi yang hobinya makan – pasti akan senang selalu berada di rumah kalo tidak ada tugas, sebab ada makanan buatan istrinya yang menggoda selera.

So, bagi para akhwat yang belum bisa memasak, masih ada waktu untuk belajar memasak. Mungkin tidak perlu ikutan kursus memasak. Cukuplah dibuat program lomba masak antar kos akhwat, atau saling berbagi resep, dan mencoba resep masakan baru. Dengan sering latihan, maka kemampuan memasaknya akan semakin terasah. Sepakat? harus donk......
Jogja, saat liat akhwat keluar dari warung

Tolong, Beritahu Aku...















Beritahu aku makna keikhlasan
Karena aku selalu mengharapkan balasan
Dari setiap aktivitas yang aku lakukan
Aku bangga bila dipuja, dan aku marah jika dicela
Padahal ustadzku pernah berkata
“Hendri, Semua amal yang tidak dilandasi keikhlasan adalah sia-sia
dan tidak akan mendapatkan pahala”
Beritahu aku makna pengorbanan
Sebab yang aku lihat sehari-hari
Itu berarti memberikan beberapa uang recehan
Yang terselip di pojok dompet, di antara lembaran ribuan
Atau sisa makan tadi di warung Padang
Bila ada panitia yang datang meminta sumbangan
Kalau tidak ada, tinggal bilang
“Maaf ya,aku lagi gak ada uang”
Padahal yang aku dengar
Pengorbanan berarti memberikan semuanya
Jiwa, raga, harta, demi perjuangan
Beritahu aku makna ketaatan
Apakah melaksanakan semua perintah tanpa tanya
Itukah ketaatan?
Sebab ada temanku yang selalu bertanya bila ada ta’limat
Dibilang tidak taat
Padahal yang aku tahu, ketaatan adalah hasil dari sebuah proses panjang
Untuk menanamkan suatu pemahaman
Beritahu aku makna keberanian
Apakah selalu mengambil sikap konfrontasi dengan murabbi
Itukah keberanian?
Sebab ada temannya temanku yang bercerita dengan bangga
Tentang pendapatnya yang selalu berbeda dengan murabbinya
Padahal abiku berkata
“Keberanian itu adalah kesanggupan mengatakan kebenaran
Dalam situasi bagaimanapun juga”
Beritahu aku  makna kesyukuran
Sebab aku selalu merasa kurang atas apa yang ada
Padahal yang aku baca,
Syukur berarti menerima apa yang ada
Dengan sepenuh rela
Beritahu aku makna ukhuwah
Sebab hatiku selalu gembira menikmati ghibah
Kalau ada kawan yang kena masalah
Secepat kilat beritanya mewabah
Dan bila sehari tidak ada berita baru, hatiku resah dan gelisah
Padahal kata temanku Candra
Ghibah sama saja dengan memakan bangkai saudara
Beritahu aku makna kemenangan
Karena dalam pikirku, menang berarti
Tidak pernah mengalami kekalahan
Dalam setiap pertarungan
Padahal kata guruku, kemenangan berarti tidak putus asa
Atas semua kegagalan yang menimpa
Beritahu aku makna kata cinta
Sebab dalam benakku, cinta berarti rasa suka
Kepada “bidadari cantik” yang mempesona
Saat aku bertemu dengannya di jalan
Atau di ruang pertemuan
Hingga diri ini terkesima dan bibirku hanya mampu berkata
“Masya Allah…cantiknya”
Padahal, katanya cinta tak sebatas rasa suka
Banyak makna terkandung di dalamnya
Ketundukan, kerelaan, kepasrahan, pengorbanan
Tolong beritahu aku
Akan makna semuanya itu
                                                                                       
                                                                              Jogja, 26 Mei’04
                                                                                                            
 

Ikhwan yang bersih, ada ngga sih?



Ikhwan yang bersih dan rapi, ada nggak ya? Ah.....pastilah ada. Meskipun sampe saat ini aku belum menemukannya di sekitarku. Seperti kata pepatah, di antara gelapnya malam, ada bintang yang bergelayut di sana. Sepakat ora?
Terus terang, aku ingin meyakinkan diriku, bahwa seorang ikhwan adalah orang yang yang senantiasa menjaga kebersihan dan kerapian, baik itu kebersihan diri maupun rumah tempat tinggalnya. Seorang ikhwan, adalah ia yang memahami makna dari hadist, ”Allah itu indah dan menyukai keindahan”, ”Kebersihan sebahgian dari iman”. But, so far this time, sampe saat ini nih aku belum melihatnya.
Pendapat in terlontar karena dari beberapa kost/kontrakan yang di dalamnya berisi ikhwan kondisinya jauh dari kata bersih, kalo tidak bisa di sebut kumuh. Bukannya aku orang yang sok bersih, sok rapi de es be, lho. Suer. Hanya saja memang begitu keadaannya. Di kontrakan ikhwan yang aku lihat, kaca berdebu tebal sehingga bisa ditulisi nama penghuninya, sampah berupa kertas dan plastik berserak di mana-mana. Di pojok kamar bertumpuk pakaian kotor yang menunggu disentuh, belum lagi yang tergantung di gantungan baju, sehingga nyamuk-nyamuk sangat senang mampir untuk beristirahat di situ kalo kecapean terbang. Di jemuran bergelantungan baju yang beberapa hari tidak diangkat, kadang sampe kehujanan lagi. Ada yang merendam baju sehari semalam terkadang lebih dan tidak sempat dicuci-cuci, sehingga mengeluarkan aroma yang tidak sedap. Di dapur, bisa dilihat tumpukan piring dan gelas kotor entah udah berapa minggu ’merana’, menunggu dimandikan.
Sekali lagi aku menulis ini bukan karena merasa paling bersih dan rapi, atau aku ingin menjelek-jelekkan ikhwan, karena aku pun ikhwan lho. Hanya aku ingin mengingatkan kembali dan menyadarkan kita semua (bukankah kewajiban kita untuk saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, agar kita tidak merugi?) bahwa kita mesti mulai belajar menata semua hal dari yang sederhana. Karena dari hal yang kelihatannya sepele, bisa menimbulkan dampak yang besar. Kan akan teramat sangat disayangkan, ketika ada obyek dakwah yang sedang kita dekati, kemudian diajak main ke kontrakan dan menyaksikan keadaan yang seperti ’kapal pecah’. Ia yang semula simpati terhadap kita akhirnya berkurang kesimpatiannya setelah melihat itu semua. Timbul persepsi bahwa kita hanya NATO (not action talk only).
Aku ngga tau, apakah ini terjadi di kalangan ikhwan saja atau akhwat juga sama. But, kalo aku baca di majalah Karima beberapa tahun lalu, kayaknya permasalahan ini juga ada di akhwat, meski mungkin nggak separah di ikhwan. Cerita berjudul “Parade Kaos Kaki” itu bercerita tentang keadaan yang terjadi di kontrakan para akhwat, di mana setiap saat ada pemandangan yang kurang sedap dilihat. Bertumpuk kaos kaki di pojok ruangan, karena sang empunya seolah tidak pernah mempedulikannya. Mungkin karena akhwat itu punya banyak kaos kaki, sehingga setiap habis memakai langsung aja dilemparkan begitu saja, dan berganti dengan yang lain. Untungnya masih ada satu akhwat yang rela untuk mencucikannya. Tapi karena terlalu sering, ia takut mengurangi keikhlasannya, sehingga dalam kultum subuh ia menyinggung tentang hal ini. Dan untuk beberapa hari berikutnya keadaan menjadi lebih baik. Tidak ada lagi kaos kaki yang teronggok di pojok ruangan. Sampe pada suatu ketika ada rapat di ruangan tersebut dengan beberapa ikhwan, seorang ikhwan menegur, karena ternyata ada lagi setumpuk kaos kaki di sana.
Ada lagi cerita dari temanku yang berkunjung ke tempat kos adiknya yang akhwat di Banjarmasin. Ia melihat kondisi yang mirip dengan kost-kostan ikhwan. Berantakan. Temanku berkata “kamar akhwat kok kayak gini....” Adiknya berkata ”Eh...ini masih mendingan. Ini udah yang paling bersih daripada kamar yang lain ...”J
Adik temanku yang kebetulan berkunjung ke Jogja dititipkan ke kontrakan akhwat. Ketika ditanyakan bagaimana keadaan di sana (gak tau bermaksud investigasi atau apa), dijawab sama adiknya kalau kondisinya berantakan. Banyak pakaian yang menumpuk, belum diseterika.
Jadi, kalo dilihat dari cerita-cerita tersebut kayaknya hal ini sudah ada dimana-mana. (cerita parade kaos kaki di atas berlatar belakang di Kota Semarang). Di Jogja, Semarang, Banjarmasin, dan mungkin terjadi juga di kota lain. Atau mungkin karena satu fikrah ya, sehingga dalam permasalahan kebersihan dan kerapian pun sama masalahnya J
Aku yakin, teman-teman telah berusaha untuk melakukan perubahan, mulai dari membuat jadwal piket sampai membuat tulisan yang ditempel di dinding. Mulai dari yang mengutip hadist ”Allah itu indah dan menyukai keindahan”, ”Kebersihan sebagian dari iman”, atau sindiran halus, ” Alhamdulillah, ane tidak membuang sampah di sini. Semoga ini bisa menjadi catatan amal kebaikan di akhirat kelak”. Yang bernada sindiran dengan canda, ”Kepada akhi-akhi yang terhormat, bahwasanya di rumah ini tidak memiliki pembantu seorangpun. Barang siapa yang memakai gelas, piring dan panci sehabis makan mie harap segera dicuci. Tidak ada alasan menunda, sesibuk apapun anda. Ikhwan yang bersih dan rapi insya Allah akan mendapatkan akhwat yang bersih dan rapi. He..he...”. (kalo ini berdasarkan pengalaman di kontrakan).
Semoga tulisan-tulisan itu tidak hanya menjadi penghias dinding, tapi bisa sebagai pemacu semangat untuk terus memperhatikan kebersihan lingkungan tinggal kita. Karena biasanya, semangat tersebut hanya bertahan selama beberapa hari. Habis itu kembali ke keadaan semula. Kotor. Kumuh. Tulisan-tulisan tersebut? Ah.....udah ngga ngaruh tuh.